Ketidakpastian dan kehidupan seperti dua buah sisi koin .Bagaimanakah pandangan stoicism terhadap kekhawatiran hidup manusia?

khawatir/kha·wa·tir/ a takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti; .

Khawatir menurut stoic adalah salah satu komponen yang membuat kita jalan ditempat. Alih-alih memanfaatkan segala kesempatan yang ada, kita lebih khawatir dulu dengan hasil akhirnya tidak memenuhi ekspektasi. Kita khawatir akan hal-hal yang tidak kita lakukan di masa lalu yang akhirnya menurut kita menjadi sumber kemalangan kita di masa kini.

Maka dalam cara-cara menghadapi kekhawatiran masa lalu (the past), masa kini (the present), dan masa depan (the future), stoicism menyarankan untuk

The Past

Berhentilah berlari dari masa lalu, karena sejatinya segala hal yang terjadi pada kita diluar kendali kita. Berdamai dan menerima masa lalu satu-satu nya cara kita mengendalikan khawatir kita akan masa lalu.

“Make the best use of what is in your power, and take the rest as it happens”— Epictetus

The Present

Segala sikap dan reaksi kita terhadap kejadian saat ini adalah yang utama, karena hanya di bagian inilah kita memiliki kendali penuh atas segala hal. Sadarilah bahwa kita hidup di masa sekarang, untuk berterima kasih pada masa lalu dan untuk masa depan yang lebih baik.

“He suffers more than necessary, who suffers before it is necessary”— Seneca

The Future

Jika berbicara mengenai masa depan pastilah kita akan bicara tentang ekspektasi. Stoicism melihat ekspektasi sebagai suatu hal yang tabu, baik itu harapan atau ketakutan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan masa depan adalah, bertindak 100% akan segala hal yang bisa kita lakukan hari ini.

“Make the best use of what is in your power, and take the rest as it happens” — Epictetus

Artikel ini adalah bagian dari #SelasaStoic